Headlines News :

Berita Terpopuler

Ratusan Karyawan Chevron Duri Lakukan Aksi Solidaritas Bioremediasi

DURI - Sebanyak kurang lebih 300 karyawan PT Chevron Pasifik Indonesia (CPI) melakukan aksi solidaritas kasus bioremediasi, Rabu (31/10) di lapangan depan Wisma Bekasap, Komplek Chevron Duri. Meskipun hujan deras turun, tidak menyurutkan semangat mereka dalam melakukan aksi tersebut.

Demikian hal tersebut dikatakan Koordinator Aksi Karyawan Chevron Duri Etrisa kepada kabarduri.com, aksi yang dimulai pukul 16.30 WIB ini bertujuan bagaimana karyawan Chevron Duri secara moral tidak menyetujui penahanan empat karyawan Chevron yang ditahan oleh Kejagung saat ini.

"Kita melakukan aksi ini, bukan atas dasar perusahaan, melainkan dasar pribadi masing-masing karyawan Chevron. Kami ingin menunjukkan kepedulian kita atas ketidakadilan Hukum dalam menyelesaikan permasalahan ini," paparnya.

Dalam aksi ini juga, karyawan Chevron melakukan penandatangganan diatas spanduk berwarna putih dimana diatasnya bertuliskan 'We Support You'(kami mendukung kamu). Tidak hanya itu saja, karyawan Chevron diberikan kebebasan menyampaikan suara mereka dalam aksi ini.

"Yang paling dinantikan saat kita membacakan surat dari balik tembok penjara, yang dibuat oleh Endah Rumbiyanti, Widodo, Kukuh ,dan Bachtiar Abdul Fatah. Keempat karyawan Chevron menuliskan bagaimana mereka bisa bertahan dalam menghadapi permasalahan yang saat ini terjadi," jelasnya.

Saat ditanyakan dimana saja dilakukan aksi ini, Etrisa menjawab, bahwa aksi solidaritas ini dilakukan disetiap Distrik Chevron yang ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa dan bahkan dari Amerika Serikat.

"Kalau di Sumatera, kita melakukan aksi ini serentak di Distrik Duri, Minas, dan Rumbai. Kita berharap, kasus ini bisa terselesaikan dan penangguhan penahanan karyawan Chevron bisa dikabulkan. Bagaimana pun juga mereka belum terbukti bersalah hingga saat ini," tuturnya.

Dirinya juga berharap, bermaslahan ini bisa diselesaikan secara cepat dan tepat oleh BP Migas. Karena Chevron merupakan perusahaan Kontraktor Kontrak Kerjasama (KKKS) yang dibawah pengawasan langsung BP Migas.

"Meskipun hari ini kita sudah melakukan rapat dengan BP Migas selama dua jam, namun tidak menemukan titik terang terkait permasalahan yang menimpa keempat karyawan Chevron. Untuk itu, saya secara pribadi meminta Pemerintah Indonesia secara tegas memperhatikan permaslahan ini," tutupnya. (fely)

Foto : Sebanyak kurang lebih 300 karyawan Chevron membentuk lambang aksi solidaritas kasus bioremediasi Chevron di lapangan depan Wisma Bekasap, Rabu (31/10) sore.

Saat Sholat Idul Adha, Warga Duri 'Disiram' Hujan

DURI - Hujan yang terus turun di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis membuat sholat Idul Adha terkendala. Sehingga hampir ribuan masyarakat Kota Duri 'disiram' hujan saat melakukan sholat Idul Adha dilapangan terbuka, Jumat (26/10).

Seperti terpantau oleh kabarduri.com, yang terjadi kepada masyarakat Kota Duri yang akan melakukan sholat Idul Adha di Lapangan Angsana, Kelurahan Balik ALam, mereka terpaksa harus membubarkan diri dan berbasah-basahan, saat hujan deras yang mendadak turun.

"Memang sekitar pukul 05.00 WIB, hari sudah mendung. Awan hitam sudah merata diatas langit Kota Duri. Kalau dari informasi kawan-kawan yang tinggal di sekitar Jalan Sudirman, kantor Camat Mandau, pukul 06.30 WIB sudah hujan deras disana. Tapi disini belum hujan," diakui Rahmat salah satu warga Jalan Kenanga yang akan sholat berjamaah di Lapangan Angsana.

Hujan pun merata sekitar pukul 07.00 WIB, jelasnya saat berteduh dirumah salah satu warga didekat lapangan tersebut. Hujan deras yang berlangsung selama satu jam lebih itu membuat warga hanya bisa pasrah dan sholat di masjid masing-masing dilingkungannya.

"Meskipun hujan turun, pelaksanaan sholat tetap bisa berjalan kok. Kita nanti akan sholat di masjid dekat rumah saja," paparnya.

Ribuan masyarakat Kota Duri yang melakukan sholat Idul Adha di lapangan terbuka pun pindah ke dalam masjid mereka masing-masing. (ainun)

Foto : Masyarakat Kota Duri saat melakukan sholat Idul Adha tahun lalu di Lapangan Stadion Mini Pokok Jengkol.

"Kolor Ijo' Sudah Meresahkan Warga

DURI - Saya tinggal di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis. Yang ingin saya ceritakan, bagaimana masyarakat dilingkungan sekitar rumah saya saat ini menjadi resah karena cerita dan kejadian yang beredar ditengah masyarakat Kota Duri tentang 'kolor ijo'.

Saya berharap, Polsek Mandau selaku penegak hukum bisa menyelesaikan permasalahan ini agar tidak menjadi ketakutan di tengah-tengah masyarakat. Saya sendiri saja, saat ini harus menunda segala perjalanan keluar kota karena keselamatan istri saya.

Sebaiknya, Polsek Mandau melakukan sosialisasi tentang pencegahan masalah 'kolor ijo' ini agar tidak merebak di masyarakat. Saya pun sangat heran, kenapa dalam mengungkap kasus ini, Polsek Mandau sangat lama.

Saya juga sangat berharap, siskamling yang berada di lingkungan rumah saya berada lebih aktif kembali. Bahkan, saya telah mengusulkan, untuk melakukan ronda malam di lingkungan tempat tinggal saya.

Untuk setiap kepala keluarga yang meninggalkan istrinya dirumah sendiri, sebaiknya ada saudara laki-laki yang ikut menemani. Karena, para wanita yang tidak hanya ibu-ibu, bahkan anak-anak remaja, sangat ketakutan jika malam sudah tiba.

Saya juga berharap, masyarakat lebih peduli dengan lingkungan tempat tinggalnya masing-masing agar kasus 'kolor ijo' ini bisa terselesaikan dengan cepat.

Sumber : Marwan (nama samaran) salah satu warga yang tinggal di Kota Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis.

SBY Diminta Pecat Oknum TNI AU Penganiaya Wartawan


JAKARTA - Aksi solidaritas yang dilakukan wartawan di Riau mengecam kekerasan terhadap wartawan oleh anggota TNI Angkatan Udara bergeser ke Instana Negara. Dalam orasinya, salah satu koordinator aksi, Usman Hamid mendesak agar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) turun tangan.

"Kejadian tersebut harus diusut hingga tuntas. Presiden selaku Panglima Tertinggi TNI harus turun tangan dan menginstruksikan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas dan melakukan proses hukum pelaku kekerasan wartawan di Riau," kata Usman di depan Istana Negara, Rabu (16/10).

Diketahui enam wartawan yang menjadi korban kekerasan itu yakni Ferianto Budi Anggoro (Antara), Didik Herwanto (fotografer Riau Pos), Fakhri Rubianto (reporter RTV), Ari TV One, Irwansyah RTV, dan Andika fotografer Vokal. Selain menganiaya, oknum TNI AU juga merampas sejumlah kamera foto dan video wartawan yang tengah melakukan tugas jurnalistik.

"Kekerasan tidak berhenti dengan cara memohon maaf saja dari TNI AU dan mengganti peralatan jurnalistik milik rekan kami. Tidak, itu belum cukup. Pelaku harus diproses hukum, bukan sekedar sanksi internal, melainkan melalui peradilan umum karena ada unsur pidana dalam peristiwa itu," tegas Usman.

Dalam aksi kali ini, Wartawan seluruh Indonesia menyatakan sikap mendesak agar TNI memecat dan mempidanakan Letkol Rober Simanjuntak selaku parat TNI AU yang melakukan aksi kekerasan terhadap wartawan di Riau. Tindakan tegas itu perlu dilakukan karena selain melanggar UU Pers no 40 tahun 1999 dan masuk dalam unsur pidana, tetapi juga telah mencoreng korps dan semangat reformasi dalam tubuh TNI yang lagi-lagi menampilkan wajah kekerasan.

Jurnalis juga mendesak Kementrian Polhukam dan jajaran terkait dalam hal ini Kementrian Pertahanan dan Mabes TNI agar menginstruksikan kepada seluruh perwira tinggi, perwira menengah dan level prajurit TNI agar menghormati kerja jurnalistik dalam melakukan peliputan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono selaku panglima tertinggi TNI agar menginstruksikan kepada Panglima TNI untuk menindak tegas dan memproses hukum pelaku kekerasan terhadap wartawan di Riau. Selain itu Presiden juga harus memastikan ke depan peristiwa kekerasan terhadap wartawan dalam melakukan peliputan tidak lagi terulang.

DPR RI dalam hal ini Kokmisi I DPR RI dalam waktu dekat harus memanggil Menteri Pertahanan dan Panglima TNI termasuk Kepala Staf TNI Angkatan Udara untuk menjelaskan bentuk pertanggung jawaban mereka atas kasus kekerasan ini.

Usman menmabahkan, aksi kekerasan itu terjadi di wilayah masyarakat, bukan dalam kawasan TNI AU. Selain itu sudah mejadi tugas jurnalis menginformasikan peristiwa tersebut, karena tidak ada larangan bagi wartawan meliput jatuhnya pesawat tempur itu.

Usai berorasi, ratusan wartawan yang tergabung dalam Poros Wartawan Jakarta, Pewarta Foto Indonesia, AJI Indonesia, AJI Jakarta, Kameraman Jurnalis Indonesia dan seluruh organisasi wartawan lainnya membubarkan diri.

(Editor : fely / jpnn)

Oknum TNI AU Ancam Bunuh Wartawan

PEKANBARU - Demikian dipaparkan Didik Herwanto, fotografer Riau Pos tentang bagaimana kronologis penganiayaan dirinya oleh oknum TNI AU berpangkat Letkol. Saat meliput jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 milik TNI AU di Jalan Amal Bhakti, Pasir Putih, Kabupaten Kampar, Riau. Selasa (16/10) kemarin.

Pukul 09.30 WIB pagi kemarin, Didik pergi ke kamar mandi dan dikejutkan oleh suara ledakan disusul teriakan bahwa ada pesawat jatuh. Didik yang tinggal di Jl Pahlawan Kerja, tidak jauh dari Pangkalan Udara TNI AU, dengan bercelana pendek dan baju warna hijau langsung berlari dan mengambil tas kamera, lalu pergi ke arah suara ledakan menggunakan sepeda motor.
Lima menit kemudian Didik tiba di lokasi kejadian, Didik yang merupakan wartawan pertama yang sampai di lokasi itu. Meski warga sudah ramai, tetapi belum ada aparat dari TNI AU. Dia kemudian melakukan pekerjaan jurnalistik dengan melakukan pemotretan terhadap pesawat yang sedang terbakar hebat tersebut dari berbagai sisi.

20 menit kemudian datanglah sejumlah wartawan media lain dan mengabadikan peristiwa tersebut. Beberapa saat setelah itu datang pasukan AURI. Untuk menghalau massa yang berada di dekat bangkai pesawat, pasukan AURI itu berteriak “Awas ada bom". Didik yang berada cukup dekat kemudian menjauh sekitar 50 meter dari puing-puing pesawat dan masih melakukan pemotretan.

Saat sedang memotret puing kursi pelontar yang digunakan pilot untuk menyelamatkan diri, serta-merta datang Kadispers Lanud Pekanbaru Letkol Robert Simanjuntak yang saat itu berpakaian dinas. Pamen TNI AU itu langsung berlari mendekati Didik sambil meneriakinya. “Kamu orang mati kalau mengambil gambar," teriak Robert.

Aksi Letkol Robert  di luar dugaan, dia langsung menendang Didik, mendorongnya hingga jatuh. Tidak berhenti di situ, Robert menindih Didik dan mencekiknya, kemudian memukul kepalanya beberapa kali. Saat itu Robert juga menekankan kandung kemih Didik dengan lutunya. Saat itu pula seorang berpakaian orange merampas kamera Didik.

Tidak puas menyiksa Didik, beberapa saat kemudian datang lebih dari lima tentara lain dan langsung menendang, menginjak-injak Didik secara bergantian. Padahal ketika itu Didik sudah mengaku sebagai fotografer Riau Pos dan menunjukkan Id-card Pers yang dikalungkan di lehernya. Namun Robert Cs tak mau peduli. “Tak peduli mau wartawan Riau Pos atau siapa,” ujarnya arogan.

Meski dianiaya oleh Letkol Robert bersama anggotanya di depan masyarakat, termasuk sejumlah anak-anak Sekolah Dasar (SD), tak seorang pun berani mencegah tindakan anarkis Letkol Robert. Setelah babak belur barulah datang seorang anggota POM TNI AU dan membawa Didik ke dalam mobilnya. Meski sudah diamankan POM TNI AU, beberapa oknum TNI AU masih sempat mengancam: “Aku sudah tahu alamatmu, awas kau malam nanti ya,” katanya mengancam.

Selama sekitar 15 menit Didik ditahan oleh anggota POM TNI AU hingga akhirnya dievakuasi ke Markas POM di Komples LANUD Pekanbaru. Di sana, Didik didampingi pihak Riau Pos langsung melaporkan peristiwa yang dialaminya secara resmi dan menjelaskan kronologis penganiayaan itu.

Pihak POM kemudian membawanya ke RS TNI AU tak jauh dari Markas POM untuk melakukan visum. Sekitar pukul 14.00 WIB, Didik kemudian diantar oleh beberapa wartawan Riau Pos ke RS Eka Hospital Pekanbaru untuk melakukan pengobatan.

Didik Herwanto mengalami luka serius di telinga kirinya, terlihat bengkak dan berdarah. Di sekujur punggungnya juga mengalami luka memar akibat ditendang dan diinjak oleh Robert dkk. Didik juga merasa kesakitan di pinggang sebelah kanannya, dan merasakan sakit di ginjalnya.


Di lokasi yang sama, perampasan kamera milik kamerawan Riau Televisi Fakhri Rubiyanto (Robi) juga berlangsung. Saat itu sekitar pukul 09.45 WIB, Robi baru selesai mengambil visual suasana pasca jatuhnya pesawat Hawk 100 milik Danlanud Roesmin Nuryadin yang latihan. Usai mengambil visual kepanikan warga dan bangkai pesawat yang jatuh, Robi juga sempat mengambil visual Didik, fotografer Riau Pos yang dikejar dan dipukuli oleh oknum perwira Danlanud.

Robi juga sempat mengambil visual oknum anggota Paskhas Auri yang mengambil kamera Didik. Usai mengambil visual tersebut, giliran Robi yang dikejar oleh oknum anggota Paskhas. Sambil berlari, Robi menyelamatkan kaset yang berisikan rekaman suasana pasca jatuhnya pesawat Hawk 200 dan pemukulan fotografer Riau Pos Didik tersebut.

Robi langsung mengganti kaset tersebut dengan kaset kosong dalam kamera Panasonic MD 10.000 yang digunakannya untuk peliputan. Setelah merasa aman dari kejaran oknum Paskhas Auri, dia kembali mengambil gambar lepas jatuhnya pesawat dari kejauhan.

Namun tiba-tiba dari arah belakang, seorang oknum Paskhas TNI AU memakai baju kaos dan bercelana pendek tanpa bicara langsung mencengkram baju Robi dan melayangkan pukulan ke arah wajah Robi.

Kamera Robi langsung dirampas oleh oknum bersangkutan. Ketika oknum Paskhas Auri tersebut lengah, Robi langsung melarikan diri dan berhasil lolos dari kejaran oknum Paskhas TNI AU itu dan menyerahkan kaset rekaman aksi kekerasan tersebut ke kantornya.

(editor : fely / disadur dari : jpnn)

SOWAT Tuntut Robert Dan Danlanud Diberhentikan

PEKANBARU - Sejumlah ratusan wartawan cetak, on-line, televisi yang bergabung dalam Soladiratis Wartawan Untuk Transparansi (SOWAT) menuntut diberhentikannya Letkol Robert Simanjuntak dan Danlanud skuadron Pekanbaru Bowo Budiarto.

Mereka melakukan aksi demonstrasi di Bundaran Tugu Zapin, depan Kantor Gubernur Riau, mengutuk aksi kekerasan oknum TNI AU Letkol Robert Simanjuntak kepada wartawan Riau Pos Didik Herwanto saat meliput jatuhnya pesawat temput milik TNI AU skuadron Pekanbaru.

Sowat pun dalam orasinya, meminta dilakukannya proses hukum terhadap perwira TNI AU Letkol Robert Simanjuntak, terhadap aksi pemukulan Robert kepada wartawan.

"Copot Danlanud dan proses secara hukum Robert Simanjuntak. TNI bekerja dilindungi undang-undang, Polisi juga bekerja dilindungi undang, Wartawan juga bekerja dilindungi undang-undang. Jadi jangan ada kekerasan, kami mengutuk dan meminta Robert dicopot," teriak Syahnan Rangkuti, sebagai Koordinator Aksi.

Usai melakukan orasi, ratusan wartawan ini langsung melanjutkan aksinya ke DPRD Riau." Kita meminta anggota dewan memanggil Danlanud serta Robert, " tegas Syahnan. (fely)

Foto : diambil dari halloriau.com / Wartawan melakukan aksi demo menuntut Letkol Robert Simanjuntak dan Danlanud dicopot dari jabatannya.

Jarkom LAM Riau Kecam Perbuatan Oknum TNI AU

DURI - Jaringan Komunikasi Lembaga Adat Melayu Riau (Jarkom LAM Riau) mengecam tindakan oknum TNI AU melakukan pemukulan terhadap wartawan saat peliputan pesawat tempur Hawk 200 yang jatuh di pemukiman warga.

Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pembina Jarkom LAM Riau, Hang Temong kepada kabarduri.com, Rabu (17/10), bahwa sebelum melakukan pemukulan, dilakukan himbauan dengan pengeras suara terlebih dahulu kalau terkait keamanan.

"Seharusnya penegak hukum tidak main hakim sendiri. Kalau daerah tersebut sudah dipagar dengan garis kuning dilarang melintas, dan mereka menerobos kan bisa ditegur baik-baik. Ini, garis kuning aja belum dipasang sudah main pukul aja," paparnya.

Dijelaskan dirinya, kalau pemukulan tersebut dibenarkan negara, silahkan tidak di proses hukum. Namun, kalau hal itu tidak dibenarkan, tentu harus diproses secara hukum. Kejadian tersebut, dikatakannya telah mencoreng nama TNI AU di mata masyarakat Indonesia.

"Permasalahan ini, diharapkan segera terselesaikan. Kalau bisa saling damai. Saya menghimbau kepada penegak hukum yang akan memproses kejadian ini agar adil, se adil-adilnya. Karena yang mananya tindakan anarkis oleh aparat penegak hukum, jelas melangar aturan," jelasnya.

Ditempat terpisah, Ketua Himpunan Wartawan Duri (HIWARI) Yusrizal mengatakan kepada kabarduri.com, oknum TNI AU yang telah melakukan tindakan sewenang-wenang agar diproses secara hukum. Karena negara Indonesia ini merupakan negara hukum.

"Kita sangat bersimpati dengan rekan-rekan wartawan yang menjadi korban pengasaran oleh oknum TNI AU di Pekanbaru. Kita juga mengecam tindakan barbar oknum tersebut tidak bisa ditolerir. Tidak hanya cukup dengan minta maaf, tapi harus diproses hukum. Kalau tidak ada efek jera, profesi wartawan akan dilecehkan terus. Bahkan tidak mungkin, kejadian seperti ini akan terus terulang di masa datang," pungkasnya.

Upaya menghalang-halangi tugas jurnalistik, menurut Yusrizal, sama saja melanggar kebebasan pers, dan hak jurnalis mendapat informasi yang akurat. " Lagi pula lokasi kejadian itu dipemukiman penduduk, maka tidak ada areal privasi yang dilanggar. Wartawan sah-sah saja mengambil foto dan data-data yang dibutuhkan. Herannya kenapa wartawan saja yang diburu, kok masyarakat umum dibiarkan, kalau alasannya keselamatan," ungkapnya.

Sementara itu, Didik Herwanto, fotografer Riau Pos, salah satu korban pemukulan oknum TNI AU, yang ditendang, diinjak, dipukul dan dirampas kameranya, saat dikonfirmasi Metro Riau, mengatakan kasus penganiayaan tersebut tetap dilanjutkan ke jalur hukum. " Belum ada pertemuan dengan mereka (TNI AU). Kondisi saya hari ini sudah baikan, sudah pulang (dari rumah sakit, red). Kawan-kawan di Pekanbaru saat ini menggelar aksi solidaritas. Saya terima kasih kepada kawan-kawan wartawan dimanapun yang peduli dengan kasus ini. Jangan sampailah terulang lagi kejadian ini," tukasnya. (fely)

Foto : Ketua Pembina Dewan Jarkom LAM Riau, Hang Temong.

Masayarakat dan Wartawan Kecam Tindakan Arogan Anggota TNI AU

PEKANBARU - Masyarakat dan wartawan yang berada di Provinsi Riau mengecam tindakan arogansi dan kekerasan yang tunjukkan oknum TNI AU. Bahkan, oknum TNI AU tersebut dengan berani menendang, menjatuhkan, mencekik dan memukul wartawan foto Riau Pos, Didik Herwanto saat meliput insiden jatuhnya pesawat tempur TNI AU skuadron PEkanbaru.

"Sungguh biadab, kelakuan yang ditunjukkan anggota TNI AU saat menganiaya wartawan foto Riau Pos. Kita wartawan dilindungi oleh Undang-Udang Pers. Kita bekerja sesuai dengan tugas," kata salah satu wartawan di Pekanbaru.

Dijealskannya, masyarakat sekitar yang melihat Didik dipukuli pun sudah berteriak. "Jangan, jangan, jangan. Namun, tetap saja, Didik mendapatkan perlakuan kasar oknum TNI AU itu," paparnya.

"Bagaimana pun juga, permintaan maaf saja tidak cukup, karena TNI AU sudah tercoreng oleh tindakan oknum TNI AU yang berpangkat Letkol itu," jelasnya.

Salah satu masyarakat yang tidak mau disebutkan namanya, juga mengutuk apa yang dilakukan oknum TNI AU tersebut.

"Dia (Oknum TNI AU, red) itu manusia bukan, kan dia bisa tanya lebih dulu, bukan main pukul terus merampas apa yang bukan milik mereka," tegasnya. (fely)

Oknum TNI AU Yang Memukul Berpangkat Letkol

JAKARTA - Tindakan anarkis terhadap wartawan Riau Pos, Didik saat mengambil gambar jatuhnya pesawat tempur Hawk 200 di Desa Pasir Putih, Kampar, Riau, diduga dilakukan oleh perwira TNI AU bernama Letnan Kolonel Robert Simanjuntak, anggota Lanud Roesmin Nurjadin.

Perwakilan Riau Pos, Ilham Yasir yang juga pengurus Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Riau, menjelaskan dirinya telah melaporkan tindakan pemukulan dan perampasan kamera saat meliput ke POM AU Pekanbaru.

"Kita sudah lapor ke POM AU, baru Didik dan Robby RTV yang lapor, sedangkan Rian Anggoro dari Antara dan wartawan TV One serta satu lagi yang saya belum tahu namanya, belum," kata Ilham Yasir.

Dia menjelaskan, pemukulan itu dilakukan oleh Letkol Robert Simanjuntak selaku perwira menengah yang juga memerintahkan perampasan kamera wartawan. Sampai saat ini kamera Didik juga belum dikembalikan.

"Kamera masih dirampas, kita sudah laporkan juga pada waktu itu ada Pamen TNI AU, Letkol Robert, dia yang pukul Didik, dia yang perintahkan rampas kamera. Robert pakai seragam lengkap, kalau yang lain pakai baju olahraga," jelasnya.

Pelaporan itu menurut Ilham langkah prosedural yang ditempuh Riau Pos, korban juga sudah divisum. Sedangkan diluar upaya hukum, lanjut Ilham, wartawan di Riau juga akan buat pernyataan mengecam tindakan itu.

"Kita juga sedang kumpulkan foto-foto saat korban Didik dicekik, nanti akan dipublish," tegasnya.(editor : fely, sumber : jpnn)

Wartawan Melapaor Ke Den POM AU

PEKANBARU - Wartawan beserta fotografer media lokal di Pekanbaru, yang menjadi korban keliaran oknum TNI AU saat meliput insiden jatuhnya pesawat tempur milik TNI AU, mealporkan hal tersebut ke Detasemen Polisi Militer Angkatan Udara (Den POM AU).

Sejumlah wartawan dan fotografer harus mendapatkan perawatan intensif dan harus dilarikan ke rumah sakit, akibat pemukulan oleh oknum TNI AU. Oknum TNI AU sendiri hingga saat ini masih menahan kamera TV milik Fahri Rubianto dan kamera foto milik Didik Herwanto

Fahri Rubianto yang akrab dipanggil Robi, kameramen Riau Televisi (RTV) yang menjadi korban pemukulan sangat terkejut melihat tindakan refresif dari TNI AU terhadap wartawan yang tengah meliput. "Kami dikejar dan dipukuli seperti penjahat. Kamera saya masih ditahan TNI AU, mereka memang kejam," ujarnya kepada kabarduri.com, Selasa (16/10).

Robi yang mengalami bengkak dibagian pipi kiri setelah menerima pukulan dari salah seorang oknum anggota Paskhas TNI AU itu. Merasa didiskriminasi dan menjadi korban kekerasan, Robi langsung melaporkan Detasemen Polisi Militer Angkatan Udara. Robi juga telah melakukan visum sebagai bukti kekerasan.

"Kami tidak akan tinggal diam, ini kekerasan terhadap pers, kami akan bawa ini keranah hukum. Persoalan ini harus tuntas, karena negara ini negara hukum," ucap Pemred RTV Bambang Suwarno saat mendampingi proses visum Robi di RS Bhayangkari.

Hal yang sama juga diungkapkan Didik Herwanto, fotografer Riau Pos yang menjadi bulan-bulanan oknum perwira Auri. Saat mengambil gambar, Didik langsung dipukuli hingga jatuh oleh salah seorang perwira. Tidak sampai disitu, Didik juga dicekik oleh perwira tersebut.

"Saya babak belur, diinjak hingga dipukuli. Kamera saya dirampas AURI," ujarnya saat divisum di RS AURI.

Selain mereka, beberapa wartawan lain juga turut menjadi korban seperti Rian Anggoro, wartawan ANTARA, Ari kontributor TV ONE dan beberapa warga yang HP nya dirampas AURI saat berusaha mengambil foto pesawat jatuh tersebut. (fely)

Foto : Anggota TNI AU skuadron Pekanbaru berusaha mencekik Didik Herwanto Fotografer Riau Pos saat meliput jatuhnya pesawat tempur milik TNI AU di Desa Pasir Putih, Kampar, Riau.

KSAU : Mungkin Kena Burung

JAKARTA - Sampai saat ini TNI AU belum bisa memastikan penyebab jatuhnya pesawat tempur jenis Hawk 200 milik TNI AU skuadron Pekanbaru di pemukiman warga Desa Pasir Putih, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Bahkan, KSAU Imam Sufaat tidak mau mengarang dalam memberikan informasi sebelum dilakukannya penyelidikan lebih lanjut oleh PPKPT (Panitia Penyelidik kecelakaan Pesawat Terbang) dari TNI AU.

"Biasanya itu pasti ada sesuatulah yang terjadi. Tidak mungkin penerbang tiba-tiba eject. Mungkin kena burung kali. Kita belum tahu pasti. Kalo saya yakin, saya kira ini bukan human error. Berdasarkan pengalaman, mungkin mesinnya," papar Imam.

Imam belum bisa memastikan, kapan investigasi jatuhnya pesawat Hawk 200 di Pekanbaru, selesai dilakukan. "Karena investigasi harus sangat detail," jelasnya. (fely)

Foto : Pesawat tempur jenis Hawk 200 milik TNI AU skuadron Pekanbaru yang jatuh di pemukiman warga di Riau.

Gajah Liar Kembali Hantui Warga Di Mandau

DURI - Kawanan gajah liar kembali menghantui warga Desa Balai Makam Kecamatan Mandau. Hampir satu bulan terakhir ini, setiap pukul 17.00 WIB kawanan gajah liar berjumlah sekitar 17 ekor tersebut sudah menampakkan diri mencari makanan di seputaran perladangan warga.

Keberadaan gajah liar itu berada di STAI Hubbul Wathan, kilometer 8 dan juga di sepuitaran Jalan Siak. Kehadiran kawanan gajah sangat menakutkan warga sekitar, karena  sudah nekad merusak pondok warga di ladang  untuk mencari makanan berupa beras, dedak dan juga makanan lainnya.

Demikian hal tersebut dikatakan Kepala Desa Balai Makam Agushar kepada kabarduri.com, Selasa (16/10) diruang kerjanya, bahwa  hampir setiap malam warga melakukan pengusiran terhadap kawanan gajah dengan membakar ban bekas secara bersama, jika kawanan gajah liar sudah mulai memasuki perladangan mereka.

"Kami sudah letih mengusir gajah liar itu, hampir setiap malam kita melakukan pengusiran agar jangan merusak tanaman dan jangan mendekati pemukiman warga. Bahkan ada warga sampai tidak tidur menjaga ladangnya agar tidak dirusak kawanan gajah liar," terangnya.

Agushar juga mengakui sudah banyak korban materi akibat amukan gajah liar tersebut. Pihaknya juga sudah tidak mau melaporkan perihal gajah liar yang merusak tanaman warga. Alasannya walaupun dilaporkan, tindakan dari pihak terkait tidak pernah ada. "Makanya lebih baik kita berusaha mengusir dengan dara kita sendiri aja lagi sekarang," tegasnya.

Namun kata Kades yang baru dilantik beberapa bulan lalu mengatakan bahwa dirinya merasa takut jika kesabaran masyarakat tidak terkontrol sehingga melakukan tindakan diluar aturan. "Kita mengharapkan kepada Pemerintah dan BKSDA Riau dapat mencarikan solusinya dengan cara relokasi. Bila perlu disediakan lahan, jangan untuk pengusaha HTI diserahkan lahan hingga mencapai ribuan hektar sementara lahan untuk relokasi gajah tidak dapat disediakan," tutup Kades dengan nada sedikit kesal. (fely)

Foto : Gajah liar sering masuk ke pemukiman dan ladang warga di Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau.

Alasan TNI AU Usir Wartawan Karena Prosedur Keamanan

JAKARTA - Pengusiran terhadap wartawan yang sedang meliput kejadian jatuhnya pesawat tempur TNI AU dikarena prosedur keamanan, demikian hal tersebut disampaikan Kepala Satuan Angkatan Udara, Marsekal Imam Sufaat.

Dirinya pun membenarkan, bahwa anak buahnya telah melakukan pengusiran tersebut. Menurutnya, tindakan tersebut memang perlu dilakukan untuk menjaga kerahasiaan pesawat militer tersebut. "Iya, kalau untuk pesawat tempur kan rahasia ya," kata Imam kepada wartawan di Istana Negara, Selasa (16/10).

Selain itu, menurut Imam, tindakan anak buahnya tersebut demi keselamatan awak media dan warga sekitar juga."Nanti kalau misalnya bawa bom, nanti situ (wartawan) kena bomnya. Sebetulnya ada kerahasiaannya juga," ujar Imam.

Dikatakan Imam, tujuannya justru demi keselamatan warga sipil dan yang bersangkutan. "Yang jatuh pesawat tempur. Kalau ternyata bawa bom lalu kena bom, gimana?" ujar Imam.

"Sebagai sebuah sarana militer tentunya ada unsur yang bersifat rahasia dari pesawat itu. Bukan kecelakaannya yang TNI AU rahasiakan, tapi komponen dari pesawat yang naas itu. Jadi ada kerahasiaannya juga," jelas Imam.

Pesawat tempur Hawk 200 TNI AU yang jatuh di Riau sedang dalam penerbangan latihan rutin. Misi latihan bisa berupa serangan dari udara ke udara atau udara ke darat.

"Ini persiapan latihan perang TNI AU pada 23 Oktober nanti yang melibatkan F16, Sukhoi, Hawk dan Hercules di Tanjung Pandan," imbuh Imam. (fely)

Foto : Lokasi kejadian jatuhnya pesawat tempur TNI AU di Kampar, Riau, yang diupload Erick, di Twitter dengan akun erickriboo.

Kameramen RTV Berhasil Melarikan Diri

PEKANBARU - Saat akan meliput jatuhnya pesawat tempur milik TNI AU, Fahri Rubianto kameramen Riau Televisi (RTV) juga ikut menjadi korban kegananasan oknum Paskhas TNI saat akan mengambil kejadian jatuhnya pesawat tempur TNI AU.

"Iya saya kena pukul juga, kamera pun juga ikut ditahan POM AURI. Saya berhasil melarikan diri. Namun, Didik hingga sekarang masih ditahan POM AURI, kameranya juga ditahan, Saya sendiri dipukuli dibagian wajah sampai memar begini oleh anggota Paskhas TNI AU berpakaian olahraga. Sekarang saya lagi dirumah sakit," ujar Fahri saat dihubungi via telfon gennggamnya.

Sampai saat ini Didik masih ditahan oleh POM TNI AU karena mengambil foto jatuhnya pesawat. Fahri Rubianto yang mengalami hal serupa, kamera tv miliknya pun masih ditahan POM TNI AU. Rubianto sendiri berhasil melarikan diri, setelah sebelumnya dipukuli oknum Paskhas TNI AU. (fely)

Foto : Ilustrasi

Wartawan Foto Kena Pukul dan Ditahan

PEKANBARU - Niat wartawan foto Riau Pos Didik Herwanto hendak meliput kejadian tersebut, malah mendapatkan perlawanan dari anggota TNI AU. Dirinya menjadi korban tindak kekerasan dan ditahan oleh anggota TNI AU.

Selain dipukuli, kamera miliki Didik Herwanto juga dirampas anggota TNI AU yang berada ditempat kejadian pesawat tempur jatuh yang sedang berjaga.

"Saya kena pukul, kamera pun ikut dirampas, bahkan helm dan kacamataku juga ikut diambil," kata seorang pewarta foto ANTARA yang ikut jadi korban kekerasan dan arogansi anggota TNI AU.

Selain pewarta foto Antara dan Riau Pos, wartawan TV One, Riau TV, dan Riau Chanel juga mengalami hal serupa. Wartawan foto Riau Pos bernama Didik Herwanto saat ini masih di tahan ditempat yang belum diketahui. (fely)

Foto : Wartawan foto Riau Pos Didik Herwanto dicekik oleh anggota TNI AU saat sedang melakukan peliputan.

Niat Menolong Pilot, Warga Malah Kena Jotos

PEKANBARU - Warga yang melihat pesawat tempur jatuh, berniat menolong pilot di wilayah Kecamatan Pasir Putih, Kabupaten Kampar malah dipukul oleh oknum TNI AU berseragam lengkap. Arogansi itu ditunjukan oknum TNI AU, bukannya berterimakasih.

"Saya sudah ikut menolong, malah kena jotos," jelas seorang warga kepada kabarduri.com yang tidak mau disebutkan namanya.

Dirinya bersama warga lain mendengar suara, seperti ada yang meledak, sontak langsung keluar rumah melihat apa yang terjadi. Ternyata setelah melihat pilot yang akan jatuh warga berusaha menolong. Warga, menolong pilot yang bernama Reza, dan membawa ke rumah kepala desa setempat.

"Tiba-tiba datang tentara bereragam untuk menjemput pilot, dan tetara yang menjemput pilot ada yang memukuli warga yang tengah berada di situ," jelasnya. (fely)

Foto : Ilustrasi

Kemacetan Di Pasar Mandau Low Respon



DURI - Bagi masyarakat kota Duri, perjalanan dari simpang pokok jengkol menuju simpang geroga yang melewaati pasar Mandau sangat lah menyiksa. Pasalnya, jalan utama tersebut selalu saja macet karena sudah penuh sesak oleh pedagang kaki lima dan parkir yang berlapis-lapis.

Hingga kini kemacetan yang sudah terjadi sejak bertahun-tahun silam ini masih low respon atau lambat mendapat tanggapan dari Pemerintah setempat. Bahkan terkadang pemerintah terkesan tidak tegas dalam melakukan penertiban kepada pedagang kaki lima yang menggunakan badan jalan untuk berjualan serta penertiban parkir kendaraan roda dua.

"Sudahlah macet, kadang penuh sampah pula. Bau busuk dimana-mana karena pedagang membuang sampah dibadan jalan. Ini sudah sering kali disampaikan kepada lurah disini supaya pihak terkait bisa lebih tegas dalam menertibkan pedagang kaki lima sehingga lalu lintas berjalan lancar,"kata Usman warga Kelurahan Duri Timur kepada kabarduri.com.

Tentunya dalam hal ini, peran UPIKA kecamatan Mandau sangat dituntut untuk serius dalam merespon masalah kemacetan dan sampah yang berserakan disepanjang jalan Sudirman khususnya disekitar pasar Mandau.  (ainun)



Foto : Tenda para pedagang kaki lima di pasar Mandau 

Beasiswa Bengkalis Kok Kecil Ya?

DURI - Aneh tapi nyata, Pemerintah Kabupaten Bengkalis yang memiliki dana bagi hasil (DBH) yang cukup fantastis nilainya, ternyata sangat sedikit dalam memberikan beasiswa kepada mahasiswa/wi nya. Kalau yang saya tahu, pada tahun lalu saja untuk D3 Rp. 1 juta rupiah, S1 Rp. 1,5 juta rupiah dan S2 Rp. 2 juta rupiah.

Jumlah nilai beasiswa yang diberikan Pemerintah Kabupaten Bengkalis kok lebih kecil ya. Dibandingkan dengan Pihak lainnya. Pada hal, pihak Pemerintah Kabupaten Bengkalis bisa saja memberikan yang besar, asalkan selektif dalam memberikan beasiswanya. Dengan nilai yang seperti itu, perjalanan ke Bengkalis saja sudah menghabiskan uang Rp. 300 ribu rupiah pulang-pergi.

Jadi, uang yang kita terima pun tidak sebanding dengan biaya pendidikan di bangku kuliah. Kalau menurut saya, jika Pemerintah Kabupaten Bengkalis serius ingin memajukan di bidang pendidikan, kan bisa saja memberikan beasiswa yang pantas dan layak.

Uniknya lagi, tahun lalu, teman saya yang tidak lengkap administrasi dokumennya mendapatkan beasiswa S1 nya. Dibandingkan saya yang lengkap persyaratannya tidak menerima beasiswa tersebut sama sekali. Kan sayang juga, kalau DBH yang besar tidak bisa dipergunakan secara maksimal.

Pengirim : Wawan Setiawan, Mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Padang, putra daerah Bengkalis.
Photo: Ilustrasi (networkedblogs)

Anak Saya Dibilang Sakit, Minta Transfer 80 Juta

DURI - Pagi-pagi saya menerima telepon dari paman saya. Dia menceritakan kepada saya kalau ada yang menelepon dia mengaku bernama'Hidayat' mengatakan bahwa anaknya yang masih duduk di kelas 1 Sekolah Dasar jauth dari tangga, karena didorong kawannya dari belakang.

Sontak, Rabu (10/10) pagi saya terkejut. Orang yang mengaku-ngaku bernama hidayat itu bilang kepada paman saya, kalau anaknya dalam keadaan kritis dan akan dibawa ke Rumah Sakit Umum. Untuk itu, sang penelepon yang mengaku bernama Hidayat ingin mengajak paman saya bertemu. Namun, paman saya tidak semudah itu percaya.

Paman saya pun langsung melakukan pengecekan ke wali kelas anaknya. Setelah dihubungi, ternyata anaknya baik-baik saja dan dalam keadaan sehat. Orang tersebut mengajak paman saya ketemu dengan alasan harus ada yang dibayarkan sebesar RP. 80 juta rupiah. Karena tidak ingin tertipu paman pun menghubungi saya untuk menindak lanjuti permaslahan tersebut.

Tanpa pikir panjang, saya pun menyamar sebagai paman saya dengan menghubungi ke nomor Hidayat. Sebanyak 100 kali saya menghubungi Hidayat melalui selulernya tidak kunjung diangkat. Melalui pesan singkat (SMS) pun tidak dibalas, mungkin saja orang bernama Hidayat sudah mencium bau-bau kalau dirinya sudah ketahuan akan melakukan penipuan.

Oleh karena itu, bagi masyarakat Kabupaten Bengkalis, khususnya Kota Duri, lebih baik pastikan dulu anak, saudara, istri, suami, tau kerabat dekat kita dalam keadaan baik-baik saja. Karena sebelumnya pelaku penipuan akan menghubungi orang yang menjadi alasan untuk mematikan hp-nya.

Karena sudah mati h-nya, kita pun akan kesulitan mengubungi dan sang penipu akan beralasan kalau orang yang menjadi alasan sedang sakit dan membutuhkan perawatan serius. Jadi, pastikan keluarga anda terus dalam pantauan anda dan terus waspada terhadap segala penipuan yang akan menyebabkan anda rugi. Pastikan anda mengetahui kondisi orang yang menjadi alasan dalam keadaan baik-baik saja dengan menghubungi orang terdekatnya dengan melakukan pengecekan.

Penipuan ini sudah memakan korban. Jadi, jangan anda yang menjadi korban selanjutnya.

Pengirim : Marzuki, Duri. Alamar lengkap ada pada redaksi.
Gambar : ilustrasi
Editor : Fely

Perusahaan di Duri Kebal Hukum?

Terus terang saja, saya bukanlah termasuk orang yang memahami peraturan perundang-undangan. Apalagi soal pasal-pasal yang tertuang dalam kontrak antara PT. Chevron Pacific Indonesia sebagai pengelola ladang minyak di Duri ini dengan seluruh mitra kerjanya yang akrab disebut dengan Bussiness Partner atau BP. Sama sekali tidak saya ketahui.

Namun yang pasti saya ketahui, bahwa tak sedikit mobil-mobil perusahaan mitra kerja dari PT CPI tersebut yang melakukan pengisian Bahan Bakar Minyak (BBM) pada SPBU umum yang sebenarnya dialokasikan untuk kepentingan masyarakat. Ironisnya lagi, BBM baik solar maupun premium yang dijual kepada mobil-mobil perusahaan mitra kerja PT. CPI memiliki kesamaan harga dengan harga jual kepada masyarakat secara umum.

Sejurus dengan itu, beberapa minggu belakangan tersiar kabar melalui media cetak maupun online, tentang adanya karyawan SPBU yang terpaksa harus mendekam di Hotel Prodeo, merasakan dinginnya malam dibalik jeruji penjara gara-gara melayani pembeli yang membawa jerigen untuk dijual secara eceran. Setali tiga uang, salah satu pompa pengisian minyak pun pada akhirnya diberi tag "Do Not Operate" dikarenakan hal terkait.

Menanggapi hal ini, saya sebagai masyarakat biasa tentunya merasa bingung. Kenapa mobil-mobil perusahaan yang semestinya menggunakan BBM dengan harga industri bisa seenaknya saja mengisi bahan bakar di SPBU, tanpa ada tindakan tegas dari aparat terkait. Sementara masyarakat kecil yang membeli menggunakan jerigen harus "kucing-kucingan" untuk mendapatkan jatah minyak yang akan dijualnya secara eceran.

Paling tidak melalui media ini, saya berharap kebijaksaan dari pihak pemerintah terkait, demikian juga dengan pihak PT. Chevron Pacific Indonesia untuk menertibkan kendaraan-kendaraan perusahaan mitra kerja dari pembelian bahan bakar minyak di SPBU yang notabene adalah berharga subsidi yang diperuntukan bagi masyarakat. Pun kepada segenap perusahaan, hendaknya tidak gelap mata dalam mengejar keuntungan melalui cara-cara yang tidak dibenarkan, salah satunya dengan menganjurkan mobil-mobil operasionalnya mengisi bahan bakar pada SPBU.

Apabila hal ini terus terjadi, barangkali saya sebagai masyarakat biasa ingin mengajukan pertanyaan; "Sejatinya, pemerintah memberikan subsidi melalui BBM ini untuk masyarakat atau pengusaha?". Apabila tak terjawab pula, bahkan pembiaran dilakukan terhadap hal serupa. Tidak salah lah apa yang dikatakan Rhoma Irama "Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin".

Selanjutnya, apabila di dalam kontrak yang tertuang antara PT. CPI dengan Perusahaan mitra kerja mengharuskan menggunakan BBM harga industri. Tentu saja, pengisian BBM di SPBU dengan harga subsidi merupakan sebuah pelanggaran hukum. Nah, ketika hal tersebut tidak segera ditangani, barangkali kita juga pantas bertanya "Apakah perusahaan-perusahaan tersebut berstatus kebal hukum?".

Kita bisa lihat, persoalan ini merupakan salah satu ujian bagi integritas para pemangku jabatan di Negeri Junjungan ini. Seberapa jauh tindakan mereka dalam menertibkan mobil-mobil perusahaan yang mengisi BBM di SPBU dengan harga subsidi, barangkali dapat kira jadikan barometer, seberapa jauh para pemangku jabatan berpihak kepada masyarakat. (*)

Penulis bernama lengkap Saidul Rahman Rambe. Alamat ada pada redaksi.

Photo: Foco Truck salah satu BP PT. CPI mengisi solar di SPBU KM.6 Kulim - Duri tgl. 07/10/2012
 
Copyright © 2012. Kabar Duri - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger